Artikel

Menjelang Idul Adha, umat Islam di seluruh penjuru dunia kembali diingatkan pada makna pengorbanan dan keikhlasan. Di balik ritual penyembelihan hewan kurban, tersimpan pesan spiritual yang mendalam: bahwa nilai ibadah tidak diukur dari besar atau kecilnya harta, melainkan dari ketulusan hati dan ketaqwaan kepada Allah Swt.

Seringkali manusia terjebak dalam angan-angan. Ada yang berkata, “Kalau saya kaya, saya akan banyak bersedekah. Kalau saya nanti pensiun, saya akan lebih banyak beribadah.” Namun, kenyataannya tidak selalu demikian. Ketika harta melimpah atau waktu luang datang, belum tentu seseorang segera berbuat kebaikan. Justru sering kali semakin banyak harta, semakin banyak pula alasan untuk menunda amal.

Allah Swt. mengingatkan kita agar tidak menunda kebaikan. Dalam firman-Nya di QS. Ali Imran ayat 133 disebutkan:

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِّن رَّبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ

“Dan bersegeralah kamu mencari ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa.”

Ayat ini menegaskan bahwa kebaikan harus dilakukan dengan segera, tanpa menunggu waktu atau keadaan yang ideal. Termasuk dalam hal berkurban. Banyak orang yang mampu secara finansial, namun enggan melaksanakan ibadah kurban dengan alasan belum cukup kaya atau masih banyak kebutuhan lain. Padahal, berkurban bukanlah tanda kekayaan, melainkan tanda ketaqwaan.

Allah Swt. berfirman dalam QS. Al-Haj ayat 37:

لَنْ يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَكِن يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ

“Daging dan darah hewan kurban tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.”

Ayat ini menegaskan bahwa nilai kurban tidak terletak pada daging atau darah yang disembelih, melainkan pada niat dan keikhlasan pelakunya. Kurban adalah latihan spiritual untuk menumbuhkan kesabaran, keberanian, dan pengorbanan demi Allah. Melalui kurban, seorang muslim belajar untuk melepaskan sebagian hartanya sebagai bentuk cinta dan ketaatan kepada Sang Pencipta.

Di Kota Bontang, ibadah kurban juga memiliki makna sosial yang kuat. Hewan kurban yang disalurkan di masjid-masjid dan lingkungan RT menjadi simbol kepedulian dan kebersamaan. Daging kurban yang dibagikan kepada masyarakat bukan hanya memenuhi kebutuhan jasmani, tetapi juga mempererat ukhuwah dan menumbuhkan rasa empati di tengah kehidupan yang semakin individualistis.

Momentum Idul Adha seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua untuk tidak menunda kebaikan. Jangan menunggu kaya atau pensiun untuk berbuat baik. Justru dengan berkurban sekarang, kita sedang menanam benih ketaqwaan yang akan berbuah keberkahan bagi keluarga dan masyarakat.

Semoga Allah Swt. memberikan kekuatan kepada kita untuk bersegera dalam kebaikan, termasuk dalam berkurban, agar Kota Bontang semakin diberkahi dengan masyarakat yang taat, peduli, dan berdaya.